8 Cerita Rakyat Dari Berbagai Daerah Yang Sangat Inspiratif

  • Bagikan
Cerita Rakyat

Siapa yang tidak tahu cerita rakyat. Di Indonesia sendiri ada banyak macam cerita rakyat. Dari Sabang sampai Merauke, semuanya memiliki cerita rakyat yang berbeda-beda.

Beberapa contoh kisah rakyat atau cerita legenda yang terkenal di antaranya adalah Si Malin Kundang dari Sumatera Barat,

Sangkuriang dari Jawa Barat, Si Pitung dari Betawi, Keong Mas dari Jawa Timur, sampai Burung Cendrawasih dari Papua.

Menguti dari wikipedia Cerita rakyat sendiri biasanya merupakan kisah yang diturunkan secara turun menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sehingga kisah tersebut menjadi sebuah cerita legenda yang dikenang.

Biasanya, cerita rakyat juga merupakan sebuah cerita yang dibuat di sekeliling benda. Misalnya Gunung Tangkuban Parahu yang dibangun lewat kisah Sangkuriang.

Atau juga bagaimana kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso yang merupakan kisah pembuatan Candi Prambanan, Candi Sewu, Kraton Ratu Boko, sampai Arca Dewi Durga.

Biasanya, cerita rakyat memang ditujukan untuk anak-anak kecil, sebagai dongeng sebelum tidur mereka.

Karenanya, sangat sering jika cerita rakyat memiliki peribahasa dan pesan moral di dalamnya.berikut dibawah ini.

8 cerita rakyat dari setiap daerah diindonesia.

1. Cerita Rakyat Aceh

cerita rakyat aceh

Beungong Peukeun dan Beungong Meulu adalah dua kakak beradik. Keduanya tinggal di Aceh pada masa lampau.

Ayah dan ibu keduanya telah meninggal dunia. Beungong Peukeun dan Beungong Meulu hanya hidup berdua. Keduanya hidup rukun, saling sayang-menyayangi.

Sehari-hari Beungong Peukeun mencari udang di danau. Suatu hari ia menemukan sebutir telur ketika mencari udang.

Dibawanya telur itu dan direbusnya. Beungong Peukeun memakan telur itu tanpa mengetahui telur itu telur naga.

Keanehan pun dialami Beungong Peukeun. Ia merasa sangat haus. Tubuhnya berubah memanjang. Muncul sisik-sisik di tubuhnya laksana sisik ikan.

Berselang sehari kemudian, Beungong Peukeun berubah menjadi seekor naga!

Tak terkirakan terkejutnya Beungong Meulu mendapati kakaknya berubah menjadi naga. Ia sangat sedih. Ia sangat menyayangkan tindakan kakaknya.

NaSi telah menjadi bubur. Semuanya telah terlanjur. Beungong Peukeun menerima nasibnya. Ia berniat mengajak adiknya untuk mengembara. Sebelum berangkat, ia berpesan,

Adikku, petiklah tiga kuntum bunga yang tumbuh di belakang gubuk kita. Bawalah dalam perjalanan kita nanti.

Beungong Meulu menuruti perintah kakaknya. Ia bergegas memetik tiga kuntum bunga.

Adikku, lekaslah engkau menaiki punggungku,” kata Beungong Peukeun. “Peganglah erat-erat tiga kuntum bunga itu, jangan sampai terjatuh.

Ya, Kak.”

Naga jelmaan Beungong Peukeun lalu membawa Beungong Meulu.

Mereka melewati sungai besar. Rasa haus yang dirasakan Beungong Peukeun membuatnya meminum air sungai itu. Tandas tak tersisa air di sungai besar itu.

Mendadak muncul seekor naga besar. Ia murka karena air sungai besar diminum habis Beungong Peukeun. Ia lalu menyerang Beungong Peukeun.

Terjadi pertarungan yang sangat seru. Masing-masing berusaha mengalahkan. Tetapi pada akhirnya Beungong Peukeun keluar sebagai pemenang.

Sesaat setelah Beungong Peukeun mengalahkan naga besar, Beungong Meulu terkejut mendapati sekuntum bunga yang dipegangnya menjadi layu.

Beungong Peukeun dan adiknya kembali melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba muncul seekor naga besar lainnya yang menghadang Beungong Peukeun.

Tanpa berucap apa pun, naga besar itu langsung menyerang Beungong Peukeun.

Dalam pertarungan yang seru, Beungong Meulu melihat sekuntum bunga yang dipegangnya menjadi layu. Ia mengerti, kakaknya akan memenangkan pertarungan itu.

Benar perkiraan Beungong Meulu. Naga besar itu akhirnya kalah dalam pertarungan

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Beungong Peukeun membawa adiknya menyeberangi lautan luas. Tanpa mereka duga dari dalam laut muncul seekor naga yang luar biasa besar.

Naga raksasa. Ia lalu menyerang Beungong Peukeun. Pertarungan yang sangat seru kembali terjadi.

Di punggung kakaknya, Beungong Meulu memperhatikan sekuntum bunga yang dipegangnya. Takjuga kunjung layu bunga itu Beungong Meulu cemas dan khawatir, kakaknya akan mengalami kekalahan.

Pertarungan terus berlangsung. Kekhawatiran Beungong Meulu kembali terjadi. Kakaknya terus terdesak naga raksasa itu. Beungong Peukeun terus oertarung dengan gigih. Namun, ia akhirnya menyadari, ia akan kalah.

Ia tak ingin adiknya terluka atau terbunuh jika ia kalah. Maka, Beungong peukeun melemparkan Beungong Meulu kuat-kuat cari punggungnya.

Tak berapa lama setelah melemparkan adiknya, Beungong Peukeun terkena serangan naga raksasa. Beungong Peukeun mati akibat serangan naga raksasa itu.

Beungong Meulu terlemparjauh dari tengah laut. Ia akhirnya tersangkut di sebuah pohon di daratan. Ia sangat sedih mendapati kakak kandung tercinta itu mati.

Air matanya bercucuran. Kini tinggal sebatang kara. Ia bertekad tidak akan tersenyum dan berbicara karena kesedihannya.

Tanah tempat Beungong Meulu terdampar itu milik seorang saudagar kaya raya. Para pekerja sang saudagar membawa Beungong Meulu menghadap sang saudagar.

Siapa engkau ini?” tanya sang saudagar. “Mengapa pula engkau terdampar di tanah milikku?

Beungong Meulu hanya terdiam. Wajahnya terlihat sedih.

Sang saudagar menyadari, gadis cantik di depannya itu tentu telah mengalami kejadian menyedihkan hingga ia terlihat sedih.

Sang saudagar tertarik pada kecantikan dan penampilan Beungong Meulu. Ia pun mengutarakan niatnya memperistri Beungong Meulu.

Beungong Meulu menganggukkan kepala, menerima lamaran sang saudagar kaya raya, keduannya pun lantas menikah. Beungong Meulu menjadi istri sang saudagar yang telah memiliki anak itu.

Setelah menikah, sang saudagar sangat keheranan mendapati sikap istrinya. Beungong Meulu tidak pernah dilihatnya tersenyum.

Tidak pernah pula didengarnya istrinya itu berbicara, padahal ia tahu, istrinya bukan bisu.

Apa yang terjadi dengan istriku?” gumam sang saudagar dalam hati. “Mengapa pula ia selalu tampak bersedih?

Sang saudagar mencari cara untuk mengetahui penyebab keanehan sikap istrinya. Setelah merenung, ia akhirnya menemukan cara. Ia akan berpura-pura mati.

Tak terkirakan terkejutnya Beungong Meulu mendapati kematian suaminya. Ia sangat sedih.

Kesedihannya kian bertambah-tambah saat melihat anak tirinya menangis tersedu-sedu di dekat tubuh suaminya yang terbujur kaku.

Beungong Meulu merasa harus menghibur. Maka katanya, “Wahai anakku, Ibu tahu betapa sedih dan kehilangan yang kita rasakan karena ditinggal orang yang kita cintai.

Sang saudagar yang berpura-pura mati dan juga anaknya terkejut mendengar ucapan Beungong Meulu. Beungong Meulu ternyata bisa berbicara.

Ibu pernah juga merasakannya?” tanya anak sang saudagar kaya.

Beungong Meulu menganggukkan kepala. Ia ceritakan kejadian sedih yang dialaminya. Sejak kecil ia telah ditinggal mati kedua orang tuanya. Ia hanya tinggal berdua dengan kakak lelakinya.

Untuk engkau ketahui,” kata Beungong Meulu, “Kakak lelaki Ibu itu dibunuh seekor naga di lautan. Ibu sangat sedih karenanya. Bahkan, hingga kini pun, Ibu masih merasa sedih.

Sang saudagar akhirnya mengetahui penyebab kesedihan istrinya. Ia lalu bangun.

Beungong Meulu dan anak sang saudagar terkejut, meski keduanya akhirnya merasa senang mengetahui sang saudagar ternyata masih hidup. Ia hanya berpura-pura mati.

Keesokan harinya sang saudagar mengajak Beungong Meulu ke lautan. Katanya, “Istriku, tunjukkan di mana kakak lelakimu itu dahulu dibunuh naga raksasa.

Beungong Meulu menunjukkan tempat kakaknya bertarung melawan naga raksasa. Sang saudagar lantas mengajak Beungong Meulu menuju pantai. Terlihat tulang-tulang berserakan di pantai

itu. Sejenak mengamati dan memperhatikan, Beungong Meulu yakin, tulang-tulang itu tulang- tulang kakak kandungnya. Beungong Meulu lalu mengumpulkan tulang-tulang itu.

Sang saudagar berdoa di depan tumpukkan tulang-tulang. Ia lalu memercikkan air bunga pada tumpukkan tulang-tulang.

Keajaiban terjadi. Tumpukkan tulang-tulang itu seketika berubah menjadi Beungong Peukeun!

Tak terkirakan gembiranya Beungong Meulu mendapati kakak tersayangnya kembali hidup. Begitu pula dengan Beungong Peukeun.

Keduanya berpelukan, menumpahkan kerinduan masing- masing.

Beungong Meulu mengajak kakaknya untuk tinggal bersamanya. Sang saudagar mengizinkan. Sang saudagar merasa senang, karena sejak saat itu Beungong Meulu tidak lagi membisu.

Tidak juga berwajah murung berbalut kesedihan.

Pada suatu Beungong Peukeun berjalan-jalan di pantai. Ia terkejut melihat seekor ikan raksasa. Warna kulitnya kemerah-merahan.

Beungong Peukeur segera menghunus pedang saktinya. Bergegas ia menghampiri ikan raksasa itu.

Kedatangannya! langsung disambut ikan raksasa dengan serangan ganasnya. Terjadi pertarungan yang sangat seru.

Beungong Peukeun menancapkan pedang saktinya pada tubuh ikan raksasa. Mata ikan raksasa itu j dicongkelnya dan dilemparkannya jauh-jauh.

Mata ikan raksasa melesat jauh melewat lautan. Mata ikan raksasa akhirnya tiba di halama- rumah seorang penguasa daerah itu. Seketika menyentuh tanah, mata ikan raksasa berubah menjadi gunung.

Sang penguasa daerah kebingungan dan keheranan mendapati kemunculan gunung di halaman rumahnya. Ia lalu mengumumkan sayembara.

Siapa saja yang dapat memindahka gunung itu, ia akan mendapatkan hadiah yang sangat besar darinya. Orang itu akan dinikahkannya dengan anak gadisnya dan diangkatnya menjadi penggantinya.

Sayembara disebarluaskan. Tidak hanya diketahui segenap warga daerah itu, melainkan jauh warga di daerah-daerah jauh. Diketahui pula oleh Beungong Peukeun.

Beungong Peukeun bergegas menuju saerah itu. Telah banyak orang yang mencoba peruntungannya dengan mengikuti sayembara itu.

Namun, tidak seorang pun yang mampu memindahkan gunung di halaman rumah sang penguasa daerah.

Beungong Peukeun mengikuti sayembara. Ia tancapkan pedang saktinya pada dataran di pinggir gunung. Sejenak ia berdoa sebelum ia mencongkel gunung dengan pedang saktinya.

Keajaiban terjadi. Gunung besar itu terangkat. Beungong Peukeun mengerahkan kesaktiannya dengan melemparkan gunung itu jauh-jauh.

Sang penguasa daerah terpesona dengan kesaktian Beungong Peukeun. Ia tepati janjinya.

Anak gadisnya dinikahkannya dengan Beungong Peukeun. Tak berapa lama setelah pernikahan dilangsungkan, sang penguasa daerah lalu mengangkat Beungong Peukeun menjadi penggantinya.

Beungong Peukeun hidup berbahagia. Begitu pula dengan Beungong Meulu yang hidup berbahagia bersama keluarganya.

Dua saudara kandung itu sering saling mengunjungi, semakin memperkuat persaudaraan di antara keduanya dan juga kedua keluarga mereka.

2. Cerita Rakyat Yogyakarta – Kisah Syekh Belabelu

Cerita Rakyat Yogyakarta

Seorang bangsawan Majapahit bernama Jaka Bandem. Ketika Majapahit mengalami kemunduran, Jaka Bandem berpindah dari Majapahit ke wilayah di sebelah barat.

Ia lantas berdiam di sebuah bukit. Ia juga bercocok tanah dengan menanam aneka jenis tanaman, di antaranya padi, jagung, ubi kayu, dan lain-lainnya.

Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, tanaman- tanaman itu tumbuh subur dan memberikan hasil berlimpah untuk Jaka Bandem.

Keberhasilan Jaka Bandem mengolah dan menyuburkan tanah di bukit itu mengundang banyak orang.

Mereka berdatangan ke gubug Jaka Bandem untuk menanyakan berbagai hal berkenaan dengan pengolahan tanah.

Pengetahuan Jaka Bandem ternyata tidak hanya seputar masalah pengolahan tanah. Jaka Bandem memahami baca tulis dan juga menguasai ilmu bela diri.

Orang- orang pun banyak yang belajar baca tulis dan juga ilmu bela diri kepada bangsawan Majapahit itu.

Dengan segala senang hati Jaka Bandem memenuhi permintaan mereka. Kebaikan hati Jaka Bandem menjadi pembicaraan orang banyak.

Tidak jauh dari bukit tempat tinggal Jaka Bandem itu terdapat sebuah bukit lagi. Seorang ulama bernama Syekh Maulana Maghribi tertarik untuk berdiam di bukit itu. Sang ulama lantas mendirikan pondok pesantren.

Banyak orang yang datang ke pondok tersebut untuk menimba ilmu agama Islam dari Syekh Maulana Maghribi. Jaka Bandem juga datang berguru pada Syekh Maulana Maghribi.

Jaka Bandem belajar ilmu agama Islam dengan tekun. Ia pun memahami dan menguasai ilmu agama Islam.

Syekh Maulana Maghribi lantas mengganti nama Jaka Bandem menjadi Syekh Belabelu.

Syekh Maulana Maghribi memperkenankan muridnya itu untuk membuka pondok dan mengajarkan agama Islam di tempat tinggalnya.

Memenuhi perintah gurunya, Syekh Belabelu pun mendirikan pondok pesantren di bukit tempat tinggalnya. Banyak kemudian orang yang datang berguru kepadanya.

Salah satu kegemaran Syekh Belabelu adalah makan nasi.

Ia sangat kerap memasak nasi. Setelah nasinya ia makan, kerak nasinya ia jemur di atas genting rumahnya. Sangat banyakjumlah kerak naSi itu hingga memenuhi genting rumahnya.

Semula Syekh Maulana Maghribi tidak mempermasalahkan kegemaran muridnya itu. Namun, lama kelamaan Syekh Maulana Maghribi merasa jengkel.

Menurutnya, muridnya itu terlalu banyak mengumbar nafsu makan.

Tidak pantas kiranya dilakukan seorang ulama. Karena kejengkelannya, Syekh Maulana Maghribi lalu memarahi Syekh Belabelu di hadapan sekalian murid-murid Syekh Belabelu.

Sangat mengherankan, Syekh Belabelu hanya tersenyum ketika dimarahi gurunya. Sama sekali ia tidak berusaha mengemukakan alasan atau juga menyanggah. Ia hanya tersenyum-senyum.

Murid-murid Syekh Belabelu terheran-heran mendapati perilaku guru mereka. Mereka pun menanyakan masalah itu setelah Syekh Maulana Maghribi berlalu.

Jawab Syekh Belabelu, “Orang yang tengah marah akan membuat hati dan pikirannya tidak jernih. Hati dan pikirannya tertutup.

Oleh karena itu orang yang tengah marah tidak akan dekat dengan Allah. Orang yang dekat dengan Allah adalah orang yang hatinya terbuka dan pikirannya jernih.”

Murid-murid Syekh Belabelu merasa berbahagia mempunyai guru yang bijaksana seperti Syekh Belabelu tersebut.

Syekh Maulana Maghribi bertambah-tambah kejengkelannya saat melihat muridnya itu tidak juga menghiraukan pesannya dan tetap memenuhi kegemarannya yang dinilainya mengumbar nafsu.

Karena kejengkelannya, Syekh Maulana Maghribi pun menantang adu kesaktian melawan Syekh Belabelu.

Untuk apa kita harus mengadu kesaktian?” tanya Syekh Belabelu.

Untuk membuktikan siapa yang terkuat di antara kita!” jawab Syekh Maulana Maghribi.

Jika itu yang menjadi kehendak guru, maka sama sekali tidak ada gunanya adu kesaktian itu. Telah jelas siapa yang terkuat di alam semesta. Dialah Allah! Tidak ada yang mampu menandingi kekuatan-Nya!

Syekh Maulana Maghribi tetap merasa tidak puas mendengar jawaban Syekh Belabelu. Ia tetap bersikeras menantang adu kesaktian.

Katanya, “Kita buktikan siapa yang terkuat di antara kita dengan beradu kecepatan hingga tiba di Mekah. Siapa yang lebih dahulu tiba di Mekah di antara kita, maka dialah pemenangnya!

Meski semula terus berusaha menolak, pada akhirnya Syekh Belabelu setuju dengan kehendak Syekh Maulana Maghribi.

Sangat mengherankan, ia malah meneruskan menanak nasi sementara Syekh Maulana Maghribi telah memulai perjalanannya menuju Mekah.

Syekh Maulana Maghribi merasa yakin akan dapat menenangkan lomba adu cepat tiba di Mekah itu.

Syahdan, setelah beberapa lama menempuh perjalanan, sampailah Syekh Maulana Maghribi di Mekah. Ia tetap yakin jika dirinya akan memenangkan adu cepat itu.

Namun, betapa amat terperanjatnya Syekh Maulana Maghribi ketika mendapati Syekh Beiabelu telah berada di Mekah.

Syekh Maulana Maghribi bertanya perihal lebih dahulu sampainya Syekh Belabelau dibandingkan dirinya.

Jawab Syekh Belabelu, “Guru mengandalkan kekuatan guru sendiri untuk sampai tiba di Mekah ini.

Saya semata-mata mengandalkan kekuatan Allah karena tidak ada yang dapat menandingi kekuatan Allah di alam semesta ini.”

Syekh Maulana Maghribi akhirnya menyadari, betapa pun tinggi ilmu yang dimilikinya, namun tetap terbatas pula kemampuannya itu.

Kekuasaan dan kekuatan Allah tidak terbatas dan mustahil dapat diimbangi oleh siapa pun juga di alam semesta ini.

Ia pun sadar sepenuh hati, kemampuannya sesungguhnya masih jauh di bawah kemampuan Syekh Belabelu yang dahulu menimba ilmu darinya.

Dengan kesadarannya itu Syekh Maulana Maghribi pun mengakui kekalahan dan kelemahannya di hadapan bekas muridnya itu.

KITA HENDAKLAH TIDAK SOMBONG BETAPA PUN TINGGINYA ILMU YANG KITA MILIKI. Dl ATAS LANGIT ITU MASIH ADA LANGIT. GUNAKAN ILMU PADI, SEMAKIN BERISI MAKA SEMAKIN MERUNDUK.

3. Cerita Rakyat Yogyakarta – Asal Mula Kali Gajah Wong

Cerita Rakyat Yogyakarta - Asal Mula Kali Gajah Wong 

Sultan Agung, raja terbesar Kerajaan Mataram, mempunyai seekor gajah tunggangan yang diberi nama Kyai Dwipangga.

Gajah besar itu berasal dari Negeri Siam (Thailand atau Muangthai). Sebagai pengurus gajah itu ditunjuklah seorang abdi dalem (Pegawai istana) bernama Ki Sapa Wira.

Setiap pagi Ki Sapa Wira memandikan gajah tunggangan Sultan Agung tersebut di sebuah sungai yang berada tidak jauh dari keraton Mataram.

Pada suatu hari Ki Sapa Wira menderita sakit bisul pada ketiaknya. Ia tidak bisa menjalankan tugasnya memandikan Kyai Dwipangga. Oleh karena itu ia menyuruh adik iparnya yang bernama Kertiyuda untuk sementara menggantikan tugasnya.

Kata Ki Sapa Wira, “Agar Kyai Dwipangga menurut padamu, berikan kelapa muda padanya. Biarkan sejenak ia makan terlebih dahulu sebelum engkau mandikan.

Jika gajah itu tidak mau berendam, tepuk saja kaki belakangnya dan tarik ekornya. Niscaya ia akan mau berendam.

Gosok- gosoklah badannya dengan daun kelapa untuk menghilangkan kotoran yang melekat di tubuhnya.”

Baik,” jawab Kertiyuda.

Kertiyuda segera menjalankan tugasnya. Diberikannya kelapa muda untuk Kyai Dwipangga. Gajah tunggangan Sultan Agung itu lantas membanting kelapa muda itu dan memakannya dengan lahap.

Kertiyuda kemudian memukul pantat gajah itu dengan cemetinya agar segera berjalan menuju sungai.

Semua pesan Ki Sapa Wira segera dijalankan Kertiyuda setibanya ia di sungai. Ditepuknya kaki belakang dan ditariknya ekor gajah itu.

Gajah itu pun akhirnya berendam. Kertiyuda segera membersihkan tubuh gajah tersebut dengan daun kelapa. Setelah badan gajah itu bersih, Kertiyuda lalu membawa gajah itu kembali ke kandangnya.

Selesai memandikan Kyai Dwipangga, Kertiyuda lalu menemui Ki Sapa Wira dan melaporkanjika tugasnya telah selesai ia laksanakan.

Terima kasih,” kata Ki Sapa Wira, “Besok hendaklah engkau lakukan seperti yang telah engkau lakukan tadi.

Baik, Kang (kak),” jawab Kertiyuda.

Keesokan harinya Kertiyuda kembali datang dan menemui kakak iparnya. Ia telah bersiap kembali untuk memandikan gajah Kyai Dwipangga.

Cuaca ketika itu terlihat mendung. Kertiyuda lantas membawa gajah besar itu menuju sungai.

Air sungai terlihat surut di tempat kemarin Kertiyuda memandikan Kyai Dwipangga. Menurut Kertiyuda, kedalaman air sungai ketika itu tidak cukup untuk menjadi tempat berendam Kyai Dwipangga.

Sejenak berpikir, Kertiyuda akhirnya membawa Kyai Dwipangga ke arah hilir sungai. Ia mencari genangan air sungai yang cukup untuk berendam gajah tunggangan Sultan Agung itu.

Kertiyuda menepuk kaki belakang dan menarik ekor gajah hingga gajah itu lantas merundukkan tubuhnya, siap untuk berendam.

Kertiyuda lantas menggosok tubuh Kyai Dwipangga dengan daun kelapa. Seraya menggosok-gosok, Kertiyuda menggerutu.

Menurutnya, sungai itu tidak cukup besar untuk memandikan gajah, terlebih-lebih untuk memandikan gajah besar seperti Kyai Dwipangga itu.

Dalam gerutuannya ia pun menyalahkan Sultan Agung. “Dasar orang aneh!” gerutunya.

Tiba-tiba datang banjir bandang dari arah hulu sungai itu.

Air sungai meluap dan dengan kecepatan tinggi, banjir bandang itu menyapu segala yang ada di sungai itu, termasuk Kertiyuda dan gajah Kyai Dwipangga yang tidak sempat naik ke daratan!

Kertiyuda berteriak-teriak meminta tolong. Namun, teriakan dan lambaian tangannya tidak ada yang menyahut.

Ia dan gajah tunggangan Sultan Agung itu hanyut dan tenggelam hingga sampai ke Laut Selatan. Kertiyuda dan Kyai Dwipangga mati terseret banjir bandang itu.

Sultan Agung sangat sedih saat mengetahui Kertiyuda dan Kyai Dwipangga. Untuk mengenang adanya gajah dan wong (Orang atau manusia ) yang hanyut di sungai itu,

maka Sultan Agung lantas menamakan sungai itu Kali (sungai) Gajah Wong.

KITA HENDAKLAH CERMAT DAN BERHATI-HATI KETIKA MELAKUKAN SESUATU PEKERJAAN. PERHATIKAN SITUASI DAN KONDISI AGAR KITA SELAMAT KETIKA MELAKSANAKAN PEKERJAAN TERSEBUT.

4. Cerita Rakyat Yogyakarta – Mangir Wanabaya

Mangir Wanabaya – Cerita Rakyat Yogyakarta

Mangir Wanabaya adalah pemimpin di daerah Mangir, sebelah barat Kerajaan Mataram, pada masa pemerintahan Panembahan Senapati.

Mangir Wanabaya dikenal sakti. Ia juga mempunyai senjata ampuh yang amat bertuah, tombak Kiai Baru Klinting namanya.

Dengan kesaktian dan pusaka andalannya yang amat bertuah itu Mangir Wanabaya berniat mendirikan kerajaan sendiri dan lepas dari kekuasaan Kerajaan Mataram.

Keinginan Mangir Wanabaya itu meresahkan Panembahan Senapati. Ia lantas berembuk dengan Adipati Mandaraka, Patih sekaligus sesepuh Kerajaan Mataram yang ketika muda bernama Ki Juru Mertani.

Adipati Mandaraka memberikan nasihatnya untuk mencegah Mangir Wanabaya mendirikan kerajaan.

Adipati Mandaraka menyarankan agar Panembahan Senapati memerintahkan Putri Pembayun, putrinya, untuk menyamar sebagai penari tayub.

Siasat Adipati Mandaraka itu pun dilaksanakan. Putri Pembayun yang cantik wajahnya itu diperintahkan untuk menyamar menjadi penari tayub.

Sebagai penari tayub, Putri Pembayun lantas berganti nama menjadi Pudhak Wangi.

Sebagai pengiring rombongan penari, ditunjuklah Tumenggung Gunadarma dan Nyai Adisara. Keduanya menyamar sebagai suami istri bernama Ki Sandiguna dan Nyi Sandiguna.

Rombongan tayub itu lantas menuju arah barat guna menjalankan siasat Adipati Mandaraka.

Tak berapa lama kemudian penari tayub bernama Pudhak Wangi itu telah begitu ternama di wilayah barat Kerajaan Mataram.

Rakyat begitu terpesona dengan kecantikan dan kepiawaiannya menari. Tidak sedikit lelaki yang mengimpikan dapat menyunting penari tayub itu.

Di setiap pertunjukkan tari, para lelaki berebut dapat menari bersama Pudhak Wangi.

Berita tentang keberadaan penari tayub berwajah jelita itu didengar Mangir Wanabaya.

Secara diam-diam Mangir Wanabaya melihat pertunjukan tari tayub yang diadakan Pudhak Wangi.

Ia benar-benar terpesona pada Pudhak Wangi. Bahkan, ia berniat merengkuh penari tayub itu menjadi istrinya karena ia memang belum beristri.

Mangir Wanabaya lantas mengundang rombongan tari tayub itu untuk mengadakan pertunjukan di rumahnya. Sangat meriah pertunjukan itu ketika diadakan.

Para penoton, kebanyakan kaum lelaki, datang berbondong- bondong ke halaman rumah Mangir Wanabaya untuk menonton Si jelita Pudhak Wangi itu menari.

Tidak sedikit dari lelaki yang mengajak Pudhak Wangi untuk menari bersama, namun dengan halus Pudhak Wangi menolaknya.

Ia hanya mau menari bersama dengan Mangir Wanabaya. Mangir Wanabaya lantas menari dengan penari tayub yang jelita itu hingga larut malam.

Keinginan Mangir Wanabaya untuk memperistri Pudhak Wangi kian membesar.

Beberapa hari kemudian Mangir Wanabaya menemui Ki Sandiguna dan menyatakan keinginannya untuk melamar Pudhak Wangi.

Hamba serahkan sepenuhnya kepada Pudhak Wangi sendiri,”jawab Ki Sandiguna. “Jika ia bersedia, hamba pun selaku orangtua hanya bisa mengiyakannya.

Bagaimana denganmu, Pudhak Wangi? Apakah engkau bersedia kuperistri?” tanya Mangir Wanabaya.

Pudhak Wangi menganggukkan kepalanya. “Hamba bersedia,” jawabnya.

Pernikahan antara Mangir Wanabaya dan Pudhak Wangi pun segera diadakan secara besar-besaran. Amat meriah pesta pernikahan tersebut.

Ratusan undangan datang menghadiri pernikahan sosok yang sangat disegani di wilayah Kademangan Mangir tersebut.

Meski semula bersiasat, namun akhirnya Putri Pembayun yang tetap dalam penyamarannya sebagai Pudhak Wangi itu benar-benar jatuh cinta pada suaminya.

Mangir Wanabaya adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Di matanya, tidak terdapat cela pada suaminya itu.

Pudhak Wangi pun akhirnya membuka jati dirinya setelah beberapa saat menjadi istri Mangir Wanabaya.

Tak terkirakan terkejutnya Mangir Wanabaya setelah mendengar pengakuan istrinya. Sama sekali tidak diduganya jika istrinya adalah anak Panembahan Senapati, musuh besarnya.

Namun, karena ia melihat ketulusan cinta dan kasih sayang istrinya, kenyataan mengejutkan itu dapat diterimanya pula.

Dapat diterimanya pula ajakan istrinya untuk datang ke istana kerajaan Mataram untuk meminta doa restu.

Aku rasa, Ayahanda akan merestui pernikahan kita jika kita datang menghadap kepadanya secara baik-baik,” ujar Putri Pembayun. “Kini Ayahanda bukan lagi musuh besar Kanda, melainkan mertua Kanda.

Putri Pembayun dan Mangir Wanabaya beserta prajurit-prajurit Kademangan Mangir pun berangkat menuju istana Kerajaan Mataram.

Kepala prajurit Mataram yang berjaga tidak memperkenankan para prajurit Kademangan Mangir itu datang ke Mataram hingga Mangir Wanabaya dan istrinya hanya didampingi dua pengawalnya saja.

Bertemulah Mangir Wanabaya dengan Panembahan Senapati di ruang penghadapan. Putri Pembayun segera mencium kaki Panembahan Senapati sebagai tanda bakti dan hormatnya.

Begitu pula dengan Mangir Wanabaya.

Namun, tanpa diduga Putri Pembayun maupun juga Mangir Wanabaya, Panembahan Senapati telah mempunyai rencana khusus untuk melenyapkan Mangir Wanabaya.

Seketika Mangir Wanabaya mencium kaki Panembahan Senapati, Panembahan Senapati menghunus keris pusakanya dan menghujamkannya ke tubuh Mangir Wanabaya!

Mangir Wanabaya seketika itu menemui kematiannya.

Begitu terperanjatnya Puri Pembayun mendapati suaminya menemui kematiannya di tangan Ayahandanya. Ia tak kuat menyaksikan pemandangan menyedihkan itu hingga jatuh pingsanlah dirinya.

Jenazah Mangir Wanabaya dikuburkan di Kotagede. Makamnya dibuat khusus. Sebagian makam itu berada di dalam kompleks pemakaman dan sebagian makam itu berada di luar kompleks pemakaman.

Itu menjadi simbol bahwa Mangir Wanabaya adalah menantu Sultan Mataram sekaligus musuh Kesultanan Mataram.

Sepeninggal Mangir Wanabaya, Putri Pembayun kemudian dinikahkan dengan Ki Ageng Karanglo.

Kerajaan Mataram kemudian menjadi kerajaan terbesar di Pulau Jawa di mana hampir seluruh wilayah Pulau Jawa menjadi wilayah ke-kuasaannya.

UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH YANG PELIK MEMANG KADANG DIBUTUHKAN SIASAT DAN RENCANA KHUSUS.

5. Cerita Rakyat Sumatra Selatan – Bute Puru

Cerita Rakyat Sumatra Selatan - Bute Puru 

Seorang putra Raja Sriwijaya pada masa lampau. Ia putra bungsu dari tujuh bersaudara. Keadaannya menyedihkan.

Ia terlahir buta dan menderita penyakit kurap pada sekujur kulit tubuhnya. Karena keadaannya itu ia diberi nama Bute Puru. Buta dan berpenyakit kurap arti namanya.

Bute Puru dikenal cerdas. Sifat dan perilakunya sangat baik. Sifat itu bertolak belakang dibandingkan enam kakaknya. Mereka jahat dan kejam.

Pada suatu hari Sang Raja memanggil tujuh putranya. Ia berniat turun takhta dan menyerahkannya pada salah seorang dari tujuh putranya itu.

Siapakah di antara kalian yang merasa sanggup menggantikanku?” tanya Sang Raja.

Enam kakak Bute Puru saling menyatakan kesanggupannya untuk menggantikan kedudukan Sang Raja. Mereka saling mengunggulkan diri dan merendahkan yang lain.

Keributan di antara mereka terjadi dan hampir meruncing menjadi pertengkaran.

Sang Raja melerai keributan di antara enam anaknya itu. Ia melihat Bute Puru hanya terdiam, tidak ikut-ikutan seperti enam kakaknya.

“Bagaimana denganmu, anak bungsuku?” tanya Sang Raja pada Bute Puru. “Apakah engkau tidak tertarik menjadi raja untuk menggantikan ayahanda?”

Bute Puru tersenyum dan menjawab, “Ayahanda Raja, bukankah kerajaan kita ini memiliki tata cara pemilihan raja? Bukankah syarat-syarat menjadi Raja Sriwijaya telah juga ditetapkan, Ayahanda Raja?”

Sang Raja mengangguk-anggukkan kepala. “Tentu saja, anak bungsuku,” jawabnya. “Tata cara pemilihan raja di kerajaan kita sudah ada.

Begitu pula syarat-syarat menjadi raja. Seorang raja hendaknya adalah pribadi yang cerdas dan berhati mulia.

Sifat dan perilakunya terpuji. Kecerdasan dan kemuliaan sifatnya sangat dibutuhkan untuk memimpin kerajaan Sriwijaya.”

Jika demikian, tentu Ayahanda sesungguhnya telah mengetahui, siapa di antara kami yang paling layak menggantikan kedudukan Ayahanda,” kata Bute Puru.

Sesungguhnya Sang Raja merasa, Bute Puru merupakan sosok yang paling layak untuk menggantikannya.

Namun, Sang Raja ragu dan bingung. Apa jadinya kerajaan Sriwijaya jika dipimpin anaknya yang buta dan berpenyakit kurap itu?

Namun, lebih mengerikan baginya jika kerajaannya itu dipimpin oleh raja yang jahat dan kejam. Raja yang sewenang-wenang akan merusak dan menghancurkan kedamaian kerajaannya.

Pembicaraan tentang siapa yang paling layak menggantikan Sang Raja berakhir, tanpa membawa hasil.

Pada suatu hari Sang Raja berkunjung ke negeri tetangga. Ia menghadiri undangan raja negeri itu.

Ketika Sang Raja tengah bepergian, enam kakak Bute Puru bertemu dan berembuk.

Mereka yakin, ayahanda mereka akan menunjuk Bute Puru menjadi penerus kekuasaan ayahanda mereka. Mereka merencanakan tindakan jahat agar Bute Puru tidak menjadi Raja Sriwijaya.

Kita singkirkan Bute Puru dari istana!” tegas Si Sulung. “Lalu, kitab undang-undang kerajaan kita buang bersama Bute Puru!

Lima adik Si Sulung setuju dengan saran jahat Si Sulung.

Ketika malam tiba, enam anak raja itu mewujudkan rencana jahat mereka. Diam-diam mereka mengajak Bute Puru keluar dari istana.

Mereka membawa Bute Puru ke pinggir sungai. Dengan kejam mereka mendorong Bute Puru ke dalam sungai berair deras. Kitab undang-undang kerajaan Sriwijaya mereka buang pula ke dalam sungai itu.

Betapa kasihannya Buru Pute. Ia terseret derasnya aliran sungai tanpa mengetahui di mana ia berada. Ia juga tidak mengerti, mengapa kakak-kakaknya begitu tega dan jahat kelakuannya pada dirinya.

Ketika terseret arus air beberapa saat, tubuh Bute Puru tersangkut pada akar pohon besar.

Bute Puru lalu berpegangan erat-erat pada akar itu. Perlahan-lahan ia naik ke darat dengan berpegangan pada akar pohon besar itu.

Tubuh Bute Puru basah kuyup. Ia juga merasa kedinginan. Ia lalu duduk beristirahat di bawah pohon besar. Punggungnya menyandar pada batang pohon besar itu.

Malam itu adalah malam purnama. Bulan nampak bersinar terang di langit luas. Pada malam indah itu lima dewa turun ke bumi.

Mereka akan mengadakan rapat tentang siapa penerus kekuasaan Kerajaan Sriwijaya selanjutnya. Kebetulan, lima dewa itu mengadakan rapat di pohon besar tempat Bute Puru beristirahat.

Satu dewa berkata, “Kerajaan Sriwijaya akan mencapai kemakmurannya jika diperintah Bute Puru.”

Tetapi,” sahut satu dewa lainnya, “bagaimana Bute Puru bisa memerintah dengan keadaan buta dan berpenyakit kurap pada sekujur tubuhnya seperti itu?

“Jika Bute Puru mandi di Telaga Dewa, niscaya menghilang kebutaannya. Ia akan bisa melihat.

Penyakit kurap yang dideritanya juga akan hilang. Kulit tubuhnya akan bersih. Wajahnya juga semakin tampan hingga tidak lagi dikenali oleh mereka yang semula mengenalnya.”

Semua pembicaraan lima dewa itu didengar dan diketahui Bute Puru. Ia terkejut. Bute Puru bertekad akan mencari Telaga Dewa, meski ia tidak mengetahui di mana telaga itu berada.

Keesokan paginya Bute Puru meninggalkan tempat beristirahatnya. Ia berjalan dengan tertatih- tatih dan meraba-raba.

Bute Puru tidak mengerti kemana ia pergi. Ia hanya terus berjalan. Ia berharap bertemu dengan seseorang yang mengetahui dimana Telaga Dewa itu berada.

Menjelang siang Bute Puru masih berjalan. Mendadak ia terperosok ke dalam air. Tubuhnya tenggelam. Sejenak kemudian ia telah muncul ke permukaan air.

Terbelalaklah ia setelah muncul ke permukaan air. Kini ia bisa melihat. Kulit tubuhnya juga bersih dari penyakit kurap yang menjijikkan. Tidak hanya bersih, kulit tubuhnya terlihat bercahaya.

Bute Puru telah sembuh. Ia sangat bersyukur.

Bute Puru teringat, ia diceburkan enam kakaknya ke dalam sungai. Ia mencari sungai besar itu. Ia akan menyusuri sungai itu menuju hulu untuk kembali ke istana Kerajaan Sriwijaya.

Bute Puru terus berjalan menyusuri sungai besar menuju ke arah hulu. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beberapa orang yang sedang memancing. Ia lalu mendatangi mereka.

Mereka adalah Sang Raja dengan iringan para hulubalang Kerajaan Sriwijaya.

Kepada salah seorang hulubalang Kerajaan Sriwijaya, ia bertanya, “Maaf Tuan, apa yang sedang Tuan pancing?

Hulubalang Kerajaan Sriwijaya yang tidak lagi mengenali Bute Puru menjawab, “Kami sedang memancing kitab undang-undang kerajaan.

Seseorang membuangnya ke dalam sungai ini. Mata pancing kami telah tersangkut sesuatu di dasar sungai. Namun, kami tidak dapat menariknya.

Kenapa tidak kalian selami?” tanya Bute Puru. “Dengan menyelaminya, kalian akan mengetahui apa yang tersangkut pada mata pancing kalian.

Kami takut,” jawab sang hulubalang. “Terdapat seekor naga besar di dasar sungai ini. Ia akan memangsa manusia yang berani mendekati wilayah kekuasaannya.

Bagaimana dengan para putra Raja?” tanya Bute Puru. “Apakah mereka juga takut menyelaminya?

Sang Hulubalang menganggukkan kepala. Jawabnya, “Putra-putra Tuanku Raja tidak ada yang mau menyelaminya.”

Bute Puru melihat Raja Sriwijaya yang tak lain ayah kandungnya. Ia lalu menghampiri.

Katanya, “Tuanku Raja, apakah Tuanku Raja mengizinkan hamba untuk menyelami sungai ini untuk mencari kitab undang-undang itu?”

Raja Sriwijaya tidak mengenali Bute Puru. Ia terkesan dengan keberanian Bute Puru. Maka jawabnya, “Tentu saja, anak muda. Engkau kuizinkan untuk melakukannya.”

Bute Puru segera terjun dan menyelam menuju dasar sungai.

Di dasar sungai itu terdapat sebuah gua. Bute Puru memasuki gua itu. Ia terperanjat ketika melihat seorang gadis di dalam gua. Sangat cantik wajahnya. Bute Puru mendekatinya.

Si gadis terkejut mendapati kedatangan Bute Puru. “Siapa engkau ini?” tanyanya.

Namaku Bute Puru. Aku berasal dari Kerajaan Sriwijaya,” jawab Bute Puru.

Apa maksudmu datang ke dasar sungai ini?

Aku sedang mencari kitab undang-undang Kerajaan Sriwijaya yang jatuh ke dasar sungai ini,” jawab Bute Puru.

Lalu tanyanya dengan sopan, “Maaf, siapakah engkau ini? Apakah engkau penghuni dasar sungai ini?

Namaku Temiang,” jawab Si gadis. “Aku putri Naga Besar, penguasa dasar sungai ini. Bute Puru, sebaiknya engkau segera merubah diri.

Jika ayahku melihatmu, niscaya ia marah dan memangsamu. Lekas! Sebentar lagi ayahku akan kembali!

Temiang lalu mengerahkan kesaktiannya. Ia merubah Bute Puru menjadi sekuntum bunga.

Tak berapa lama kemudian Naga Besar tiba. Seketika memasuki gua, hidungnya mendengus- dengus. Ia menatap berkeliling.

Lalu katanya, “Aku mencium bau manusia! Ya… bau manusia! Hei Temiang, apakah engkau melihat manusia memasuki gua ini?”

Tidak, Ayah,” jawab Temiang.

Tetapi… bau manusia ini sangat kuat,” kata Naga Besar. “Aku yakin, ada manusia di gua ini. Aku lapar… aku ingin memangsanya!

Temiang mencoba mengalihkan perhatian ayahnya. “Ayah, apakah Ayah menyayangiku?”

Tentu saja, anakku,” tegas Naga Besar. “Jangan engkau ragukan rasa sayang Ayah padamu.

Bolehkah aku memohon sesuatu kepadamu, Ayah?

Apa yang engkau inginkan, anakku? Lekas sebutkan! Apakah engkau ingin memakan semua ikan yang ada di sungai ini?

Tidak, Ayah.”

Lalu, apa keinginanmu?

Aku ingin Ayah tidak memangsa seorang manusia yang kusukai,” lirih jawab Temiang. ‘Ayah, aku menyayangi pemuda itu.

Naga Besar mengangguk-anggukkan kepala. Ia menyadari, anak gadisnya itu telah tumbuh dewasa. Sudah saatnya ia berumahtangga. “Baiklah,” jawabnya. “Kupenuhi permintaanmu.”

Temiang kembali mengerahkan kesaktiannya. Sekuntum bunga yang dipegangnya kembali berubah menjadi Bute Puru.

Naga Besar menatap Bute Puru. Katanya, “Jadi, pemuda tampan lagi gagah ini yang engkau sayangi, anakku?”

Benar, Ayah,” sahut Temiang. “Apakah Ayah mengizinkan aku menikah dengannya?

Naga Besar tidak hanya mengizinkan. Ia bahkan memberikan kitab undang-undang kerajaan Sriwijaya yang sedang dicari Bute Puru.

Ketika kitab itu dahulu jatuh ke dalam sungai, Naga Besar mengambil dan menyimpannya di dalam kotak. Kotak itu lalu diletakkannya di sudut gua.

Bute Puru muncul ke permukaan sungai. Dengan membawa kotak, ia menghadap Raja Sriwijaya.

Anak muda,” kata Sang Raja. “Apakah kitab undang-undang kerajaan itu telah engkau dapatkan?

Sudah hamba dapatkan, Ayahanda Raja.”

Raja Sriwijaya terkejut. “Engkau menyebutku ayahanda?”

Bute Puru lalu menjelaskan kejadian yang dialaminya. Tak terkirakan suka cita Sang Raja setelah mengetahui pemuda gagah lagi tampan itu adalah anak bungsunya.

Ia tak menyangka, begitu kejam kelakuan enam anaknya yang begitu tega terhadap Bute Puru.

Di hadapan Raja Sriwijaya, Bute Puru membuka kotak yang dibawanya. Mendadak muncul seorang wanita dari dalam kotak sambil memegang kitab undang-undang kerajaan Sriwijaya.

Sang Raja terkejut. “Anak bungsuku, siapa wanita ini?”

Ia adalah Temiang, Ayahanda Raja,” jawab Bute Puru. “Ia putri Naga penguasa dasar sungai ini. Ayahandanya telah menyelamatkan kitab undang- undang kerajaan kita ketika terjatuh dahulu.

Jika Ayahanda Raja izinkan, hamba akan menikahi Temiang.”

Sang Raja memberi izin. Bute Puru dan Temiang lalu menikah. Pesta pernikahan mereka diadakan besar-besaran.

Rakyat diundang untuk menyaksikan perayaan pernikahan putra bungsu Raja Sriwijaya dan Temiang itu.

Di hadapan segenap rakyat dan warga kerajaan, Sang Raja mengangkat Bute Puru sebagai penggantinya.

Bute Puru dinobatkan sebagai Raja Sriwijaya yang baru. Meski telah berkuasa, Bute Puru tidak mendendam pada enam kakaknya.

Ia memaafkan setelah enam kakaknya itu meminta maaf padanya. Ia meminta enam kakaknya itu membantunya menjalankan pemerintahan.

Dalam pemerintahan Bute Puru, Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan besar. Kerajaan yang disegani kawan dan ditakuti lawan.

Segenap rakyat mencintai dan menghormati Bute Puru. Mereka hidup sejahtera di bawah pemerintahannya.

KEBAIKAN DAN KESABARAN, PADA AKHIRNYA AKAN MAMPU MENGALAHKAN KEJAHATAN DAN KEBATILAN.

6. Cerita Rakyat Riau – Kisah Tujuh Putri

Cerita Rakyat Riau - Kisah Tujuh Putri

Kerajaan Seri Bunga Tanjung dipimpin seorang ratu. Cik Sima namanya. Sang ratu memiliki tujuh orang putri. Cantik jelita wajah mereka, meski yang tercantik adalah putri bungsu. Putri Mayang Sari namanya.

Tujuh putri Ratu Cik Sima itu sering mandi di Lubuk Sarong Umai.

Pada suatu hari Pangeran Empang Kuala melintas di dekat Lubuk Sarong Umai. Kebetulan, waktu itu tujuh putri Cik Sima sedang mandi.

Pangeran Empang Kuala terperanjat melihatnya. Ia terpesona pada kecantikan tujuh putri itu, terutama kecantikan Putri Mayang Sari.

Begitu cantik jelitanya wajah sang putri, sang pangeran sangat terpesona padanya.

Duhai luar biasa mempesona wajah putri itu,” gumam Pangeran Empang Kuala. “Dialah gadis cantik dari Lubuk Umai. Dumai… Dumai…

Pangeran Empang Kuala kembali ke istana kerajaannya. Namun, wajah cantik Putri Mayang Sari senantiasa membayang dalam pikirannya.

Terbawa hingga ke dalam impiannya. Sang pangeran tidak bisa lagi memendam keinginannya. Ia lalu mengirim utusan ke Kerajaan Seri Bunga Tanjung untuk melamar Putri Mayang Sari.

Ratu Cik Sima menerima kedatangan utusan Pangeran Empang Kuala. Ia mengucapkan terima kasih atas pinangan Pangeran Empang Kuala pada Putri Mayang Sari.

Lantas katanya, “Wahai utusan, sesuai adat kerajaan kami, lamaran hendaknya tertuju pada putri sulung.

Bukan kepada putri bungsu. Oleh karena itu, sampaikan permintaan maafku pada Pangeran Empang Kuala, karena aku tidak bisa memenuhi permintaannya.

Aku akan lega hati jika putri sulungku yang dilamarnya.”

Tak terkirakan kemarahan Pangeran Empang Kuala setelah mendengar laporan utusannya. Ia murka karena lamarannya ditolak Ratu Cik Sima.

Ia segera memerintahkan segenap prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung.

Ratu Cik Sima terkejut mengetahui serangan besar-besaran itu. Ia lalu membawa tujuh putrinya ke dalam hutan.

Tujuh putri itu disembunyikan di dalam sebuah lubang.

Berbagai makanan dan minuman turut dimasukkan ke dalam lubang itu. Lubang lalu ditutup atap yang terbuat dari tanah. Batang-batang pohon disiapkan sebagai perlindungan tempat persembunyian itu.

Ratu Cik Sima lalu memimpin pasukan kerajaannya untuk menghadapi serangan pasukan Pangeran Empang Kuala.

Peperangan berlangsung sengit. Terus berlangsung hingga tiga bulan lamanya. Prajurit-prajurit Kerajaan Seri Bunga Tanjung terdesak.

Telah banyak prajurit yang menjadi korban. Bertambah hari mereka bertambah terdesak. Kekalahan hampir mereka alami.

Mengetahui hal itu, Ratu Cik Sima bergegas menuju Bukit Hulu Sungai Umai. Ia meminta bantuan jin sakti yang tengah bertapa di tempat itu.

Jin sakti menyanggupi permintaan Ratu Cik Sima.

Pada malam harinya, jin sakti menunjukkan kesaktiannya. Ribuan buah bakau berjatuhan menimpa pasukan Pangeran Empang Kuala yang sedang beristirahat.

Pangeran Empang Kuala dan para prajuritnya terluka karenanya. Mereka tak berdaya menghadapi serangan buah bakau yang gencar menyerang itu.

Datang kemudian utusan Ratu Cik Sima. Ia menghadap Pangeran Empang Kuala. Katanya, “Peperangan di antara kita ini hanya menimbulkan kerugian dan kehancuran.

Perang hanya akan menimbulkan kesengsaraan. Tidak hanya terjadi pada Kerajaan Seri Bunga Tanjung, melainkan juga pada pasukan Tuanku Pangeran.

Pangeran Empang Kuala membenarkan ucapan sang utusan. “Lalu,” katanya, “apa yang akan dilakukan Kerajaan Seri Bunga Tanjung?”

Tuanku Ratu Cik Sirna menyarankan, peperangan di antara kita ini hendaknya dihentikan.

Pangeran Empang Kuala setuju. Ia juga menyadari, peperangan itu terjadi karena dirinya. Ia lalu memerintahkan segenap prajuritnya yang tersisa untuk kembali ke kerajaannya.

Perang pun berakhir. Ratu Cik Sirna bergegas menuju hutan. Ia menuju lubang persembunyian tujuh putrinya.

Ratu Cik Sirna terkejut bukan alang kepalang saat tiba di tempat persembunyian itu. Ia mendapati tujuh putrinya telah meninggal dunia!

Rupanya, mereka kelaparan, bekal makanan mereka tidak mencukupi. Itu semua karena perang yang terus berlangsung selama tiga bulan.

Tak terkirakan kesedihan Ratu Cik Sirna mendapati kematian tujuh putri yang sangat dicintainya.

Ia sangat menyesal, mengapa dulu ia tidak menyiapkan bekal yang cukup. Ia sama sekali tidak menduga, perang berlangsung selama tiga bulan.

Jauh dari perkiraannya semula. Karena kesedihan dan penyesalannya, Ratu Cik Sirna pun jatuh sakit.

Tak berapa lama kemudian Ratu Kerajaan Seri Bunga Tanjung itu pun meninggal dunia.

Daerah tempat Pangeran Empang Kuala terpesona melihat kejelitaan Putri Mayang Sari, di kemudian hari dinamakan Dumai. Nama seperti yang digumamkan Pangeran Empang Kuala.

ERTENGKARAN, PERMUSUHAN. DAN PEPERANGAN HANYA AKAN MENIMBULKAN KERUGIAN. KEHANCURAN. DAN KESENGSARAAN. SUDAH SEHARUSNYA KITA MENGHINDARINYA.

7. Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur – Mane Loro dan Bete Dou

Mane Loro dan Bete Dou – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur

Dua anak raja pada masa lampau. Keduanya adalah anak lelaki dan perempuan.

Mereka tinggal di istana Wefulan. Anak lelaki itu bernama Manek Bot, sementara anak perempuan sang raja bernama Bete Dou. Baginda Raja dan Permaisuri sangat menyayangi keduanya.

Wajah Bete Dou sangat cantik. Sifatnya juga baik. Baginda Raja dan Permaisuri berniat memingit Bete Dou untuk menjaga kesuciannya.

Baginda Raja lalu memerintahkan Manek Bot, “Buatlah rumah suci di atas pohon beringin besar.”

Baik, Ayahanda.”

Manek Bot melaksanakan perintah ayahnya. Ia mencari pohon beringin besar lagi rimbun daunnya. Ia lalu membuat rumah kecil untuk tempat pingitan adiknya.

Bahan rumah itu dari bilah-bilah kayu cendana yang sangat harum baunya.

Dibuatnya pula anak-anak tangga untuk menuju rumah kecil di atas dahan pohon itu.

Jumlahnya dua puluh satu anak tangga, terdiri tujuh anak tangga besar, tujuh anak tangga sedang, dan tujuh anak tangga kecil.

Manek Bot bekerja keras selama seminggu untuk mewujudkan kehendak ayahnya.

Baginda Raja puas melihat hasil kerja Manek Bot. Ia pun meminta Bete Dou untuk tinggal di rumah kecil di atas pohon beringin itu.

Pada awalnya Bete Dou tidak mau hidup dalam pingitan. Ia takut hidup sendirian di rumah kecil itu.

Anakku,” kata Permaisuri. “Kami semua sangat berharap engkau akan membawa berkah dan kesejahteraan bagi kita semua.

Oleh karena itu, perlu bagi kami menjaga kesucianmu. Tinggallah engkau di rumah kecil itu agar kesucianmu tetap terjaga.”

Bete Dou akhirnya bersedia. Sejak saat itu ia tinggal sendirian di rumah kecil di atas pohon. Ia merasa bosan dan sedih hidup sendirian.

Untuk menghilangkan kebosanannya, Bete Dou menyulam dan menganyam tikar. Jika malam tiba, ia bersenandung. Suara senandungnya sangat menyayat hati bagi orang-orang yang mendengarnya.

Waktu berlalu. Suatu malam suara senandung Bete Dou didengar Pangeran Mane Loro. Putra Raja Kerajaan Loro itu terkesima. Timbul niat Mane Loro untuk mengetahui siapa yang bersenandung sendu itu.

Ia lalu mengerahkan kesaktiannya. Seketika itu tubuhnya terbang melesat mencari sosok penyenandung sendu itu.

Mane Loro akhirnya mengetahui, sumber suara senandung itu dari dalam rumah kecil di atas pohon beringin besar. Segera ia mendekati rumah kecil itu.

Mane Loro mendekati rumah kecil. Dari celah kecil antara papan ia melihat seorang gadis.

Meski remang-remang, ia bisa melihat, gadis itu sangat cantik wajahnya. Gadis itu tengah menganyam tikar sambil bersenandung. Mane Loro langsung jatuh hati.

Mane Loro perlahan-lahan mengetuk pintu.

Bete Dou tersentak. “Siapa di luar?” tanyanya.

Bukalah pintu ini, agar bisa kujelaskan siapa diriku.”

Bete Dou tidak langsung membuka pintu. Ia mengintip dari lubang kecil. Ia tidak bisa melihat jelas siapa yang ada di luar rumah kecilnya.

Siapa engkau ini?

Namaku Mane Loro. Aku anak Raja Loro.”

Untuk apa engkau datang ke rumahku ini?

Aku tertarik mendengar senandungmu. Suaramu sangat merdu. Aku sangat mengaguminya,” jawab Mane Loro. “Wahai gadis cantik, bukalah pintu rumahmu ini. Izinkan aku untuk masuk.”

Bete Dou senang mendengar pujian Mane Loro. Ia pun membuka pintu rumah kecilnya. Dipersilakannya anak Raja Loro itu untuk masuk.

Keduanya saling bertatapan. Masing-masing terpesona. Wajah Mane Loro sangat tampan dalam pandangan Bete Dou.

Keduanya lalu berkenalan. Tak lama kemudian keduanya telah akrab berbincang- bincang.

Bete Dou dan Mane Loro saling jatuh hati. Beberapa hari kemudian Mane Loro melamar Bete Dou. “Maukah engkau menjadi istriku?” katanya.

Bete Dou menerima lamaran Mane Loro. Keduanya pun menikah tanpa diketahui kedua keluarga masing-masing.

Setiap malam Mane Loro tinggal di dalam rumah kecil Bete Dou. Mane Loro akan kembali ke istana kerajaannya ketika waktu fajar tiba. Hubungan mereka terus berlanjut tanpa diketahui siapa pun.

Pada suatu ketika ayah Mane Loro jatuh sakit. Mane Loro harus merawat ayahnya. Berhari-hari ia merawat ayahnya hingga tidak dapat menemui istrinya.

Ketika Mane Loro sedang merawat ayahnya, suatu malam Manek Bot datang menjenguk Bete Dou. Bete Dou sangat terkejut mendapati kedatangan kakaknya yang tiba-tiba itu.

Ia belum sempat menyembunyikan pakaian Mane Loro ketika kakaknya masuk.

Manek Bot sangat terkejut melihat pakaian lelaki yang tergantung di dinding rumah kecil adiknya.

Adikku, pakaian siapa ini?” bentak Manek Bot. Ia sangat marah.

Bete Dou hanya terdiam. Ia menundukkan wajah.

Bete Dou! Apakah engkau tak mendengar pertanyaanku? Jawab! Pakaian siapakah itu?

Bete Dou akhirnya mengaku. Pakaian itu adalah pakaian Pangeran Mane Loro, suaminya. Ia dan Pangeran Mane Loro telah menikah.

Tak terkirakan terkejutnya Manek Bot. Kemarahannya meninggi. Bergegas ia menuruni anak tangga. Seketika tiba di atas tanah, ia berteriak- teriak keras memanggil Bete Dou.

Bete Dou! Turun kau! Tindakan buruk itu telah membuat malu kerajaan! Turun!

Bete Dou merasa sangat bersalah. Ia menyesal telah melakukan perbuatan yang membuat kakak dan keluarganya marah.

Tak ada yang bisa diperbuatnya lagi. Ia menuruti perintah kakaknya. Ia pasrah. Dengan langkah perlahan ia menuruni anak-anak tangga rumahnya sambil bersenandung.

Manek Bot tidak bisa menahan kemarahannya. Ia memukul adiknya. Akibat pukulannya, Bete Dou langsung meninggal dunia. Tubuh kaku Bete Dou tergeletak di atas tanah.

Bersamaan dengan meninggalnya Bete Dou, Mane Loro terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdebar-debar.

Ia merasa ada sesuatu yang buruk yang menimpa istrinya. Bergegas ia melesat terbang menuju rumah kecil Bete Dou.

Tak terkirakan terkejutnya Mane Loro mendapati Bete Dou telah meninggal dunia. Ia melesat menyambar tubuh Bete Dou dan membawanya terbang.

Manek Bot seperti tak percaya mendapati kejadian itu. Ia hanya terdiam membisu.

Sementara itu Mane Loro tiba di istana kerajaannya. Ia sangat sedih. Diletakkannya tubuh membeku Bete Dou.

Ia lalu mengerahkan kesaktiannya untuk mengobati Bete Dou, dengan permohonan kepada Tuhan agar istrinya kembali hidup.

Tuhan berkenan mengabulkan permohonan Mane Loro. Tak berapa lama kemudian Bete Dou kembali membuka mata. Ia kembali hidup.

Bete Dou dan Mane Loro menyadari kesalahan mereka. Mereka telah menikah tanpa izin dan restu kedua orang tua mereka.

“Besok kita akan menghadap ayah dan ibumu,” kata Mane Loro. “Kita meminta kedua orang tuamu untuk merestui pernikahan kita.”

Bete Dou setuju.

Keesokan harinya Bete Dou dan Mane Loro datang ke istana Wefulan. Keduanya menghadap ayah dan ibu Bete Dou.

Keduanya bersujud memohon ampun dan bersiap menerima hukuman apa pun yang akan ditimpakan kepada mereka.

Ayah dan ibu Bete Dou memaafkan kesalahan Bete Dou dan Mane Loro. Mereka merestui pernikahan itu.

Bete Dou dan Mane Loro berbahagia. Pernikahan mereka mendapat restu kedua orang tua Bete Dou. Mereka pun hidup berbahagia selaku suami dan istri.

RESTU KEDUA ORANG TUA MERUPAKAN SESUATU YANG SANGAT PENTING DAN BERHARGA DALAM KEHIDUPAN KITA.

8. Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat – Asal Mula Kerajaan Tangko

Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat - Asal Mula Kerajaan Tangko 

Seorang putra mahkota Kerajaan Sumbawa. Datu Panda’i namanya. Pada suatu hari Datu Panda’i bermimpi.

Dalam impiannya ia menikah dengan Sari Bulan, seorang gadis yang sangat cantik wajahnya.

Ketika terbangun, Datu Panda’i berniat kuat mewujudkan impiannya. Ia akan mencari seorang gadis seperti dalam impiannya dan memperistrinya.

Datu Panda’i menghadap ayahandanya dan mengemukakan niatnya. Ayahanda Datu Panda’i mengizinkan.

Maka, dengan iringan para pengawalnya, Datu Panda’i memulai petualangannya untuk mencari Sari Bulan. Mereka menaiki kapal layar.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Lebih dari setahun kapal berlayar, namun sosok yang dicari putra mahkota Kerajaan Sumbawa itu belum ditemukan.

Beberapa bulan kemudian waktu berlalu, hingga suatu hari mereka kehabisan air minum.

Kapal layar pun merapat di sebuah pulau kecil. Datu Panda’i dan beberapa pengawalnya turun dari kapal layar. Mereka berharap menemukan mata air di pulau itu.

Datu Panda’i dan para pengawalnya menyusuri pulau kecil itu. Mereka terus berjalan hingga akhirnya bertemu sebuah sungai.

Mereka melihat sekelompok gadis tengah bersenda gurau di pinggirsungai. Mendadak Datu Panda’i terkejut saat mendengar nama salah seorang gadis dipanggil oleh gadis-gadis lainnya. Nama gadis itu Sari Bulan!

Datu Panda’i memperhatikan gadis yang dipanggil Sari Bulan itu. Ia sangat terperanjat. Wajah gadis itu mirip dengan gadis dalam impiannya. Tak salah lagi, gadis itulah yang tengah ia cari.

Datu Panda’i memberanikan menemui Sari Bulan. Setelah mengetahui rumah Sari Bulan, Datu Panda’i pun menemui ayah Sari Bulan.

Diceritakannya impiannya dan perjalanan beratnya untuk menemukan gadis bernama Sari Bulan.

Paman, aku telah lama mencari Sari Bulan,” kata Datu Panda’i, “kini setelah kutemukan, bersediakah Paman memberi izin bagiku untuk menikahinya?

Ayah Sari Bulan mengangguk-anggukkan kepala. Ia bisa melihat kesungguhan Datu Panda’i untuk memperistri anaknya. Ia pun memberi izin.

Datu Panda’i dan Sari Bulan lalu menikah. Betapa bahagianya Datu Panda’i setelah berhasil mewujudkan impiannya.

Untuk sementara waktu, ia dan Sari Bulan bersama para pengawalnya tinggal di pulau kecil itu.

Waktu terus berlalu. Beberapa bulan kemudian Datu Panda’i meminta izin untuk pulang ke istana Kerajaan Sumbawa.

Ketika itu Sari Bulan tengah mengandung tua. Katanya, “Tak berapa lama lagi aku akan diangkat untuk menggantikan kedudukan ayahanda Raja.

Sari Bulan akan menjadi permaisuriku. Maka Paman, perkenankan aku dan Sari Bulan kembali ke Sumbawa.”

Ayah Sari Bulan mengizinkan.

Dalam perjalananmu pulang,” kata Ayah Sari Bulan, “Ingatlah baik-baik pesanku. Jagalah istrimu yang sedang mengandung tua itu.

Jangan sekali- kali kalian singgah di Pulau Dewa. Ketahuilah, di pulau itu tempat kediaman jin dan iblis. Mereka bisa membuatmu celaka!

Datu Panda’i mengiyakan pesan ayah mertuanya.

Datu Panda’i, Sari Bulan, dan para pengawal Datu Panda’i kembali berlayar.

Dengan kapal layar, mereka mengarungi lautan luas. Setelah berhari-hari menempuh pelayaran, persediaan bekal makanan mereka mulai menipis.

Datu Panda’l berniat merapat ke sebuah pulau terdekat untuk mencari makanan. Kebetulan, Sari Bulan juga menginginkan memakan daging rusa.

Datu Panda’l melihat sebuah pulau asing. Ia pun memerintahkan nakhoda kapal layarnya untuk merapat. Tanpa mereka ketahui, pulau asing Itu Pulau Dewa adanya.

Datu Panda’l berikut seluruh pengawalnya bergegas turun dari kapal. Mereka hendak mencari makanan dan juga berburu rusa untuk memenuhi permintaan Sari Bulan. Sari Bulan tinggal di kapal sendirian.

Kedatangan kapal layar Itu diketahui para iblis. Salah satu iblis Itu bernama Kuntl. Ia adalah pelayan Iblis Doro. Telah lama Kunti mengimpikan dapat menjadi Istri raja.

Ia tak ingin hidup terus- menerus hanya menjadi pelayan. Kunti mendatangi kapal layar. Muncul niat jahatnya saat melihat Sari Bulan sendirian dl dalam kapal layar.

Kunti menyerang Sari Bulan. Dengan kesaktiannya, Kunti mengambil dua bola mata Sari Bulan dan membuangnya ke laut.

Dengan kejam, Kunti mendorong Sari Bulan yang tidak lagi bisa melihat Itu ke dalam laut. Ia lalu mengenakan pakaian yang dibawa Sari Bulan. Ia lalu berdiam dl tempat Sari Bulan semula berdiam.

Betapa malangnya Sari Bulan. Tak hanya la telah kehilangan penglihatan, la juga tercebur ke dalam laut. Tetapi, la tidak tenggelam ke dasar laut. Kain baju yang dikenakannya tersangkut pada kemudi kapal.

Datu Panda’l kembali dari pencarian makanan. Ia terkejut melihat seorang wanita berwajah buruk duduk dl tempat duduk Sari Bulan.

Apa yang terjadi denganmu?” tanya Datu Panda’i.

Kunti hanya terdiam. Wajahnya membayangkan kesedihan.

Datu Panda’i teringat pada pesan ayah mertuanya. Lalu tanyanya, “Apakah ini Pulau Dewa?”

Kunti menganggukkan kepala.

Datu Panda’i sangat menyesal karena telah mengabaikan pesan ayah mertuanya. Ia menyangka, keburukan besar yang kini didapatkannya.

Wajah istrinya berubah menjadi mengerikan. Bayi yang dikandung istrinya pun menghilang.

Oh… betapa malangnya nasibku,” ratap Datu Panda’i.

Kapal layar meneruskan perjalanan hingga akhirnya tiba di Sumbawa. Kedatangan Datu Panda’i dielu-elukan rakyat. Ayahandanya menyambut gembira kepulangannya.

Datu Panda’i kemudian dinobatkan menjadi raja baru menggantikan ayahandanya. Sesuai janjinya, Datu Panda’i menjadikan istrinya selaku permaisurinya.

Sementara Datu Panda’i tinggal di istana kerajaan, Sari Bulan masih tersangkut pada kemudi kapal layar. Mendadak datang padanya seekor kerang raksasa.

Kerang raksasa itu membuka mulutnya lebar-lebar. Ia tidak bermaksud menelan Sari Bulan, melainkan membawanya menuju daratan.

Setiba di daratan, Sari Bulan yang buta itu melahirkan. Seorang bayi lelaki yang tampan wajahnya. Sari Bulan memberinya nama Aipad. Sari Bulan merawat dan mengasuh Aipad dengan penuh kasih sayang.

Kehidupan Sari Bulan yang menyedihkan bertolak belakang dengan Kunti. Ia hidup penuh kemuliaan di istana kerajaan. Ia kejam dan sewenang-wenang.

Sangat mudah baginya menjatuhkan hukuman berat bagi orang yang tidak menuruti keinginannya.

Warga kerajaan tidak menyukainya. Begitu pula dengan rakyat Kerajaan Sumbawa. Mereka seperti tidak percaya, mengapa Raja Datu Panda’i bisa beristrikan wanita dengan keburukan perangai seperti itu.

Sari Bulan menderita dalam kehidupannya. Karena tidak bisa melihat, ia tidak bisa bekerja. Ia hanya meminta-minta belas kasih orang.

Ketika Aipad beranjak besar, dimintanya pula anaknya itu untuk mengemis.

Suatu ketika Aipad melihat Tangko, seorang nelayan tua, yang baru pulang melaut. Ia mendatangi Tangko dan meminta-minta padanya.

Tangko sangat iba melihat Aipad. Tangko lalu memberikan ikan terbesar tangkapannya pada Aipad.

Masaklah ikan besar ini untukmu dan ibumu,” kata Tangko.

Terima kasih,” jawab Aipad.

Dengan gembira Aipad pulang menemui ibunya. Diberikannya ikan besar itu. Sari Bulan berniat memasaknya.

Ketika membelah tubuh ikan besar itu ia menemukan dua bola matanya. Aipad memasang dua bola itu pada rongga mata ibunya. Seketika itu Sari Bulan kembali bisa melihat.

Sari Bulan dan Aipad sangat gembira.

Anakku, siapa yang memberikan ikan besar itu padamu?” tanya Sari Bulan.

Nelayan tua bernama Tangko, Ibu.

Sari Bulan dan Aipad menghadap Tangko. Keduanya mengucapkan terima kasih dan berniat menjadi pelayan Tangko.

Sejak saat itu Sari Bulan dan Aipad menjadi pelayan di rumah Tangko. Kebetulan, Tangko tidak mempunyai anak, meski telah lama menikah.

Ia dan istrinya lalu menganggap Tangko sebagai anak mereka sendiri.

Tangko membelikan seekor kuda untuk Aipad. Ia juga melatih Aipad untuk menunggang kuda hingga akhirnya Aipad sangat terampil menaiki kuda.

Waktu terus berlalu. Aipad tumbuh menjadi pemuda gagah. Ia piawai mengendarai kuda pacu.

Di daerahnya, tak ada pemuda yang mampu mengalahkan Aipad dalam beradu kecepatan menunggang kuda.

Suatu ketika Aipad mendengar pengumuman. Kerajaan Sumbawa berencana mengadakan lomba pacuan kuda.

Hadiahnya luar biasa, yakni mahkota kerajaan. Tetapi jika kalah, peserta lomba harus menjadi budak di istana kerajaan untuk selama- lamanya.

Aipad berniat mengikuti lomba pacuan kuda itu. Ia ceritakan niatnya itu pada ibunya serta Tangko.

Berangkatlah, Anakku,” ujar Sari Bulan. “Doa dan restu Ibu selalu mengiringimu.”

Benar, Aipad,” sahut Tangko. “Memohonlah kepada Tuhan agar diberikan-Nya kemenangan dalam lomba itu.

Setelah mendapat restu ibunya dan Tangko, Aipad menuju istana. Ia mendaftar dan mengikuti lomba. Ketika lomba pacuan kuda dimulai, Aipad menunjukkan kepiawaiannya.

Tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya. Raja Datu Panda’i penasaran, ingin menjajal kemampuan Aipad.

Wahai anak muda,jika engkau mengalahkanku, mahkota kerajaan akan kuberikan kepadamu. Aku akan menobatkanmu menjadi raja,” kata Raja Datu Panda’i.

“Namun ingat, jika kau kalah, kau harus menjadi budak di kerajaanku ini untuk selama hidupmu.

Hamba bersedia, Tuanku Raja,” jawab Aipad.

Perlombaan antara Aipad dan Raja Datu Panda’i pun dilangsungkan.

Meski telah mengerahkan segenap kemampuannya dalam mengendarai kuda pacu, namun Raja Datu Panda’i harus mengakui keunggulan Aipad.

Baiklah,” kata Raja Datu Panda’i setelah kelah dalam perlombaan. “Datanglah esok hari bersama orang tuamu. Aku akan menobatkanmu menjadi raja.”

Keesokan harinya Aipad datang bersama ibunya.

Seketika melihat Sari Bulan, Raja Datu Panda’i sangat terkejut. “Sari Bulan? Sari Bulan istriku?”

Suami istri itu kembali bertemu. Keduanya saling berpelukan dan bertangisan.

Mendadak Raja Datu Panda’i melepaskan pelukannya dan menatap ke arah permaisurinya. Katanya, “Lantas, siapa permaisuriku selama ini?”

Sari Bulan pun menceritakan kejadian yang dialaminya, terutama ketika sedang sendirian di kapal layar menunggu kedatangan Datu Panda’i.

Tak terkirakan marahnya Raja Datu Panda’i setelah mengetahui kejadian itu.

Pengawal, tangkap wanita buruk perangai itu!” seru Raja Datu Panda’i. “Masukkan ia ke dalam penjara istana!

Para pengawal bergerak cepat menangkap Kunti. Mereka memasukkan Kunti yang jahat itu ke dalam penjara kerajaan.

Istriku,” kata Raja Datu Panda’i sambil menatap Aipad. “Apakah pemuda ini anak kita?

Benar,” Sari Bulan menganggukkan kepala. “Kuberi nama ia Aipad.”

Aipad anakku,” kata Raja Datu Panda’i. Ia lalu memeluk tubuh anaknya itu erat-erat, seperti enggan untuk berpisah kembali.

“Syukurlah, takhta kerajaanku akhirnya jatuh ke tangan anak kandungku sendiri.

Datu Panda’i menyerahkan takhtanya kepada Aipad. Sebagai raja, Aipad lalu mengumumkan berita penting.

Sebagai rasa terima kasihnya pada Tangko, nama kerajaan yang dipimpinnya berubah menjadi Kerajaan Tangko.

KESABARAN DALAM MENERIMA UJIAN AKAN MEMBUAHKAN HASIL YANG BAIK DI KEMUDIAN LIARI. KEJAHATAN PADA AKHIRNYA AKAN TERUNGKAP MESKI DITUTUP RAPAT.

Sekian artikel dari pinco.id seputar cerita rakyat yang ada di daerah nusantara indonesia,semoga bisa menjadi dongeng buat anank bunda sebelum tidur.

  • Bagikan